RAMADLAN & RESTORASI MENTAL

Kemenag Pamekasan Mimbar Agama

Oleh : Drs. Mulyono,  MA *)  


“[Yaitu] orang-orang yang beriman dan hati  mereka menjadi tenteram  dengan mengingat Allah. Ingatlah,  bahwa hanya dengan mengingat Allah  hati akan tenteram”.  [QS.  Ar-Ra’d    [13]  : 28].     

Syekh DR. Wahbah Az-Zuhayli  menyebutkan dalam Tafsir al-Munir,  ayat diatas menggambarkan hati yang senantiasa berdzikir kepada Allah yang selalu  memancarkan  cahaya ketenangan.  Syekh  Burhanuddin Al-Syadzili al-Hanafi  dalam Ihkam al-Hikam fi Syarh al-Hikam menjelaskan  bahwa dzikir  adalah cermin dari kesadaran  seseorang akan kehadiran  Allah dalam aspek kehidupan.  Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar  menyatakan,  dzikir  sebagai penguat rohani, penenang jiwa, dan penghapus gelisah    serta meyakini  kehadiran  Allah swt  dalam setiap keadaan.  

‘Restorasi’ berasal dari Bahasa Inggris  ‘restoration’   artinya pemulihan/perbaikan atau memperbaharui  kembali.  Restorasi  mental di bulan Ramadlan  adalah  tidak sekedar memaknai puasa sebagai  ‘ritual’  menahan lapar dan haus,   melainkan sebagai moment  untuk memperbaiki, memulihkan dan membangun kembali  secara total baik spiritual maupun fisik.    

 ‘Restorasi  mental’   di  bulan Ramadlan    sebuah proses pemulihan,  penyucian dan penataan kembali   ‘kesehatan jiwa’   [soul detoxification]  melalui pendekatan  spiritual  dan refleksi diri.  Ramadlan sebagai  ‘terapi  mental’  dengan berdzikir kepada Allah swt.   yang dapat membantu menenangkan hati,  menjernihkan pikiran  dari  emosi negative,  mengatasi stress, cemas dan kelelahan rohani.  

Ramadlan  hadir bukan sekedar mengubah jam makan,  tetapi sebagai  ‘karantina ruhani’  untuk  memulihkan kerusakan batin.  Ramadlan  tidak hanya menjadi ‘siklus  biologis’  lapar  dan dahaga  yang berlalu tanpa   ‘jejak   perubahan  dan perbaikan diri’.  Ramadlan tidak  hanya tentang ‘pantang’  tidak makan, menahan lapar dan haus,    tetapi sebagai momentum untuk  ‘merestorasi mental’  yakni   pemulihan spiritual, meretas kebiasaan buruk dan menjadi pribadi yang lebih baik.

Puasa melatih  ‘pengendalian diri’ [self  control]  terhadap dorongan biologis dan emosional, melatih meredam  amarah  dan menjadi ruang  ‘rekonsiliasi  diri’,  melepaskan beban masa lalu, rasa bersalah  atau penyesalan.   

Fenomena kehidupan modern  yang  melahirkan ‘distorsi mental’,  yaitu  jiwa yang   resah dan terpapar  dengan tuntutan yang  ‘over dosis’  sehingga  melahirkan pribadi  yang hanya taat melaksanakan ibadah secara simbolik, tapi rapuh secara mental.  

*) Penulis adalah Kepala KUA Tlanakan 

 

356