Oleh : Drs. Mulyono, MA *)
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, [tetaplah atas] fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah …” [QS. Ar-Rum [30] ayat 30].
Menurut Az-Zamakhsyari dalam Tafsir Al-Kasyaf mengomentari ayat diatas, bahwa Allah menciptakan manusia secara fitrah berpotensi menerima ajaran tauhid, yakni ajaran Islam yang lurus.
Ied Fitri bermakna kembali ke fitrah untuk menemukan kembali jati diri yang sebenarnya. Ied Fitri bukan hanya sebagai hari kemenangan setelah sebulan menahan lapar & dahaga, tapi merupakan gerbang utama bagi orang beriman untuk memanifestasikan ‘takwa’ dalam kehidupan nyata.
Ramadan tidak sekedar menahan perut, melainkan perjalanan menyusuri lorong batin. Lapar bukan tujuan, tetapi sebagai pintu. Haus bukan derita, tapi sebagai jembatan. Karena tatkala tubuh dikurangi, ruh diberi ruang untuk berbicara. Ketika nafsu dilemahkan, cahaya hati mulai berani menampakkan wajahnya.
Manusia adalah ‘musafir ruhani’. Ia datang dari Sang Khaliq. Maka hidup bukan perjalanan usia, melainkan perjalanan penyucian. Ibadah puasa sebagai penempaan dan ‘cara’ Tuhan mengajari manusia agar tidak terus menerus bangga dan gagah dengan jabatan, pujian, nama besar dan karier. Padahal yang diagungkan manusia hanya bersifat ‘fana’, tidak kekal.
Ied Fitri tidak hanya sekedar ‘pulang kampung’, tetapi secara hakiki adalah pulang kepada jati diri yang sepi dari kepalsuan, diri yang belum dicemari kerakusan, diri yang tidak terkontaminasi dengan kesombongan. Diri yang masih bisa menangis dan welas asih melihat penderitaan sesama. Diri yang selalu gemetar ketika disebut nama Allah.
Ied Fitri bukan ganti baju baru, melainkan hati yang ‘diperbaharui’. Ied Fitri tidak hanya soal rumah yang ramai dikunjungi, tapi jiwa yang terpancar cahaya Ilahi. Ied Fitri bukan pula meja yang dipenuhi hidangan, tapi hamparan batin yang bertaburan syukur.
Ied Fitri mengingatkan, bahwa manusia tidak hanya sekedar hidup, makan, bekerja lalu selesai. Ied Fitri membawa pesan untuk meniti jalan ke jati diri yang sebenarnya, tinggalkan kepalsuan dan lanjutkan ketaatan !!
*) Penulis adalah Kepala KUA Kecamatan Tlanakan