Oleh : Moh. Zaini Masbuchin, MM. (Kepala Seksi Pendidikan Agama Islam Kankemenag Pamekasan)
Bulan suci Ramadan 1447 Hijriah tidak hanya menjadi momentum spiritual bagi umat Muslim, tetapi juga ruang kelas terbuka bagi transformasi karakter peserta didik. Di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, semarak ibadah di sekolah terasa berbeda tahun ini. Pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) bersama Kantor Kementerian Agama mengimplementasikan program inovatif bertajuk PAIS Love Ramadhan, sebuah gerakan pendidikan berbasis 9 Cinta yang mengubah wajah kegiatan Pondok Ramadan menjadi lebih bermakna, kontekstual, dan aplikatif
Jika tahun-tahun sebelumnya kegiatan bulan Ramadhan di sekolah kerap diisi dengan ceramah konvensional yang monoton, maka Ramadan 1447 H ini Pamekasan menjadi saksi lahirnya simfoni ibadah yang harmoni antara nilai keislaman, literasi digital, nasionalisme, hingga kepedulian lingkungan.
Program PAIS Love Ramadhan yang digagas oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur pada jenjang SMA/SMK tidak hanya menyentuh aspek ibadah mahdhah, tetapi juga menjadi laboratorium kepemimpinan, kewirausahaan sosial, dan penguatan moderasi beragama bagi generasi Z.
9 Cinta: Kurikulum Hati untuk Pelajar Pamekasan
Berdasarkan Surat Edaran Disdikbud Pamekasan Nomor 400.3/276/432.301/2026, dan Pedoman PAIS Love Ramadhan Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, program PAIS Love Ramadhan dirancang untuk mencapai Profil Lulusan dan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Kepala Disdikbud Pamekasan, Akhmad Basri Yulianto, menjelaskan bahwa esensi dari program ini bukan sekadar menggugurkan kewajiban sekolah, tetapi menanamkan 9 nilai cinta secara berkelanjutan. "Untuk menambah nilai ibadah puasa bagi anak-anak, kami menerapkan pembelajaran tatap muka dengan format pondok Ramadan berkonsep 9 Cinta. Ada cinta puasa Ramadan, cinta mengaji, cinta menulis, cinta ilmu, cinta Rasul, cinta pondok, cinta digital, cinta lingkungan, dan cinta Indonesia," ujar Basri Yulianto saat mensosialisasikan edaran tersebut .
Kesembilan elemen ini menjadi nafas dalam setiap aktivitas siswa selama mengikuti Pondok Ramadan yang berlangsung mulai 23 Februari hingga 14 Maret 2026. Sekolah-sekolah dari jenjang PAUD hingga SMP diwajibkan menyelenggarakan kegiatan dengan pendekatan yang menyenangkan dan tidak membebani . Namun, implementasi di tingkat SMA/SMK yang dilaksanakan selama 3 (tiga) hari mulai 10 maret sampai dengan 12 Maret 2026 dengan fullday mendapatkan sentuhan khusus yaitu ditantang untuk memproduksi konten dakwah digital selaras dengan program yang dirancang oleh Kanwil kementerian Agama Provinsi Jawa Timur.
Dari Tadarus hingga Aksi Sosial: Implementasi 9 Cinta di Sekolah
Suasana khas Ramadan terasa sejak pagi di UPT SMPN 2 Pamekasan (sebagai ilustrasi). Meski jam masuk dimundurkan menjadi pukul 07.30 WIB, semangat siswa untuk mengikuti rangkaian PAIS Love Ramadhan tak surut. Kegiatan dimulai dengan salat Dhuha berjamaah yang khusyuk, diikuti tadarus Al-Qur'an yang dikemas dengan target bacaan tertentu .
Implementasi Cinta Mengaji tidak hanya sekadar membaca, tetapi juga diperdalam dengan tahsin (memperbaiki bacaan) dan tahfidz (menghafal) bagi siswa yang memiliki kemampuan lebih. Sementara itu, nilai Cinta Menulis diwujudkan dalam pembuatan jurnal Ramadan bergambar atau diary spiritual, dimana siswa merefleksikan pengalaman ibadah mereka sehari-hari. Metode ini sejalan dengan pedoman dari Kanwil Kemenag Jatim yang mendorong project-based learning, seperti pembuatan video dokumenter "Diary Ramadan" .
Cinta Digital juga menjadi sorotan unik di era modern ini. Sekolah tidak anti-teknologi, justru memanfaatkannya untuk literasi keislaman. Namun, siswa juga diedukasi tentang etika bermedia sosial yang islami dan bijak, memanfaatkan gawai untuk mencari materi kajian yang valid, bukan untuk konten negatif . "Kami ingin siswa cinta digital, tapi juga cinta lingkungan. Makanya, dalam kegiatan Pondok Ramadan, kami selipkan gerakan memilah sampah dan menanam," tambah Basri, menggambarkan bagaimana Cinta Lingkungan diwujudkan dalam aksi nyata membersihkan lingkungan sekolah dan masyarakat .
Sementara pada jenjang SMA dan SMK, kegiatan tadarus tidak hanya dilakukan secara klasikal, tetapi juga dikemas dalam bentuk Gerakan Mengaji Sejuta Like. Siswa membuat konten video pendek bertadarus dengan tartil, lalu diunggah ke media sosial sekolah atau pribadi dengan tagar #PAISLovePamekasan #RamadanBerbagi. Ini adalah wujud nyata dari Cinta Digital yang memanfaatkan gawai untuk syiar Islam, bukan untuk konten negatif . Mereka diedukasi menjadi content creator dakwah yang bijak dan Islami.
Sinergi Sekolah, Keluarga, dan Masyarakat
Keunikan lain dari PAIS Love Ramadhan di Pamekasan adalah pengakuan terhadap peran tri-pusat pendidikan. Sebelum pembelajaran tatap muka dimulai pada 23 Februari, siswa terlebih dahulu menjalani pembelajaran mandiri di rumah dan lingkungan tempat ibadah sejak 18 Februari. Orang tua dilibatkan aktif dalam membimbing anak, memastikan tugas dari sekolah bersifat sederhana dan menyenangkan, tanpa ketergantungan pada gawai .
Momentum ini juga dimanfaatkan untuk menanamkan Cinta Rasul dan Cinta Indonesia (NKRI). Materi kajian tidak hanya fokus pada fiqih ibadah, tetapi juga wawasan kebangsaan dan moderasi beragama (Islam Rahmatan lil Alamin). Para siswa diajak untuk meneladani akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari, termasuk sikap toleransi terhadap ohani, sesuai dengan instruksi untuk murid non-muslim yang juga mendapatkan bimbingan ohani sesuai agama masing-masing .
Semarak Sosial: Inspirasi dari Rekor MURI dan Safari Ramadan
Meskipun program inti PAIS Love Ramadhan berlangsung di sekolah, semangat Cinta Sosial yang diajarkan di dalam kelas menemukan relevansinya di luar pagar sekolah. Dua peristiwa besar di Pamekasan turut mewarnai Ramadan tahun ini.
Pertama, pemecahan rekor MURI oleh Yayasan Bani Insan Peduli (BIP) yang menyantuni 3.000 anak yatim dengan voucher belanja gratis. Bupati Pamekasan, KH Kholilurrahman, yang hadir dalam acara tersebut, menyebutnya sebagai contoh nyata "fastabiqul khairat" (berlomba dalam kebaikan) yang patut diteladani para pelajar .
Kedua, agenda Safari Ramadan Pemkab Pamekasan yang menyasar Kecamatan Pakong. Dalam kesempatan itu, Bupati Kholilurrahman menekankan pentingnya silaturahmi antara ulama dan umara. "Kalau ulama dan umara ini sudah tersambung, maka insyaallah pembangunan tidak akan terkendala," ujarnya, menegaskan bahwa nilai kebersamaan yang diajarkan di sekolah harus berbuah nyata dalam pembangunan daerah .
Sementara itu, Masjid Agung Asy-Syuhada Pamekasan juga menjadi episentrum kegiatan keagamaan dengan menyiapkan santunan untuk 250 anak yatim serta sahur dan buka puasa bersama, memperkuat Cinta Pondok dalam arti luas: semangat kebersamaan dan kemandirian di rumah ibadah .
Penutup
Mewujudkan Ramadhan yang Transformatif
PAIS Love Ramadhan di Kabupaten Pamekasan membuktikan bahwa bulan puasa bisa menjadi laboratorium karakter yang efektif. Melalui pendekatan 9 Cinta, sekolah tidak hanya menciptakan siswa yang pandai secara akademis, tetapi juga BErkarakter—sesuai dengan jargon "PAIS JATIM BERKARAKTER", yaitu Berakhlakul karimah, rajin mengaji, aktif salat duha, ramah, kreatif, dan terus berprestasi .
Dengan prinsip CINTA (Ciptakan Keikhlasan, Introspeksi Diri, Niati dengan Tekad Kuat, Tingkatkan Ketaqwaan, Amalkan Sunnah Nabi), program ini diharapkan melahirkan generasi Pamekasan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh secara spiritual dan sosial, siap menyongsong masa depan dengan akhlak mulia