Oleh : Drs. Mulyono, MA *)
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun. Dia memberikan kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur”. [QS. Al-Nahl [16] : 78].
Syaikh As-Sa’di dalam Taysir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir al-Kalam al-Mannan [2021] mengomentari ayat diatas, bahwa pendengaran, penglihatan dan hati adalah ‘kesatuan holistic’ yang merupakan kunci kebahagiaan hidup.
Ibn Qayyim al-Jauziyah dalam kitab Miftah dar As Sa’adah wa mansyur wilayah ahli ‘ilmi w al-idarah [1433 H] mengatakan, bahwa kebahagiaan manusia tegantung kepada pendengaran, penglihatan dan hatinya dan ketika manusia tidak mensyukurinya akan menimbulkan kesengsaraan
Model Head, Heart, Hands awal mula diperkenalkkan oleh Johan Heinrich Pestalozzi pendidik Swiss abad ke-18 yang mengatakan bahwa manusia berkembang secara utuh ketika pikiran, hati dan tindakan saling bersinergi dalam melakukan aktifitas kehidupan.
Mindfulness yang dianalogikan melalui konsep head [kepala] merujuk kepada berpikir dan memahami [tafakur & tadabur] yaitu penggunaan akal untuk merenungkan kebesaran Allah swt. Heart [hati] sebagai pusat spiritual penghayatan dengan menghadirkan ketenangan dalam beribadah, membersihkan hati dari virus dan mengisinya dengan sifat terpuji. Hands [tangan] merupakan manifestasi fisik dari kesadaran niat yang diwujudkan dengan amal shalih, berbuat ihsan dan menampilkan ahlak mulia.
Ibn ‘Athaillah dalam kitab Al-Hikam mengatakan, hati yang tidak terikat dengan dunia adalah hati yang bebas dan pikiran yang tenang adalah pikiran yang terang. Tidak larut dengan dunia, tujuan spiritual yang lebih tinggi. Syaikh Imam Al-Qusyairi dalam Ar-Risalah al-Qusyairiyyah [2018] mengatakan, hadirnya kesadaran dalam menjalani kehidupan dengan kendali hati yang tidak memandang sembarangan dalam menerima kenyataan yang dialami.
“Mindfulness” kunci menjalani kehidupan secara utuh dan bermakna, dengan konsep menikmati hidup dengan suasana batin yang dipenuhi rasa syukur kepada Allah swt. Secara metaforsis, Mindfulness menjalani hidup dengan ‘happieness’, bahagia tanpa distraksi, tidak menilai negative dan berprasangka buruk, memiliki cara pandang yang jernih, wawasan luas, bersikap luwes dan tidak mudah menghakimi, tidak selalu menyimpulkan buruk tentang kondisi orang dan situasi ruang.
*) Penulis adalah Kepala KUA Tlanakan