Tradisi “Literasi” Mengendorse Generasi

Kemenag Pamekasan • Mimbar Agama

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu. Yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah nama Tuhanmu Yang Maha Mulia. Yang telah mengajarkan dengan membaca dan menulis. Mengajarkan manusia apa yang tidak ia ketahui. [QS Al-‘Alaq [96] ayat 1–5].

Menurut Prof. Hasbi Ash Shiddieqy dalam Tafsir Al-Qur’anul Majid, menegaskan bahwa ayat di atas menunjukkan keutamaan belajar membaca, menulis, serta menjadikan kalam (firman Allah Swt.) sebagai pengembangan ilmu pengetahuan.

Sayyid Qutb dalam Fii Zhilalil Qur’an menjelaskan bahwa sumber ilmu pengetahuan adalah Allah Swt., manusia mengembangkan apa yang diketahui, membuka rahasia alam semesta, dan menggali pengetahuan dalam kehidupan.

Sayyid Qutb dalam Fii Zhilalil Qur’an menjelaskan bahwa sumber ilmu pengetahuan adalah Allah Swt., manusia mengembangkan apa yang diketahui, membuka rahasia alam semesta, dan menggali pengetahuan dalam kehidupan.

Al-Qur’an mendorong agar umat Islam “gemar belajar” melalui kemampuan membaca dan menulis, serta mengembangkan wawasan keilmuan yang luas serta mengolah informasi secara kritis terhadap berbagai problema kehidupan. Hal ini dikenal dengan istilah “literasi”.

Di era digital, literasi mengendorse generasi untuk mengasah kemampuan berpikir cerdas agar tidak mudah tertipu pada “berita palsu” (hoax), serta merawat tradisi berpikir ilmiah membaca huruf dan kalimat. Literasi hakikatnya adalah kemampuan manusia memahami dunia melalui teks, simbol, dan berbagai bentuk representasi pengetahuan; kemampuan mengidentifikasi, memahami, menafsirkan, mengungkapkan gagasan, dan menggunakan teks dalam berbagai konteks kehidupan.

Peradaban menunjukkan bahwa tradisi literasi berkaitan dengan perkembangan intelektual suatu masyarakat. Filsafat Yunani berkembang melalui tradisi membaca dan berdialog dengan teks. Ilmu pengetahuan modern lahir dari “tradisi menulis”, menguji, dan memperdebatkan gagasan. Bahkan sastra tumbuh dari pengalaman hidup manusia dan menuliskannya dalam bahasa yang bermakna.

Mengendorse generasi dengan literasi, supaya generasi mampu membaca dan membentuk sudut pandang (worldview), berpikir kritis, beradaptasi dengan perkembangan zaman, dan tidak mudah larut dengan budaya yang semakin deras dengan nilai “pragmatisme” (budaya instan) dan hedonisme. Mengendorse literasi diharapkan generasi membentuk masa depan cemerlang dengan prinsip hidup berdasar nilai, bukan gaya hidup tanpa kendali.

47